Daftar Blog Saya

Selasa, 20 September 2011

Sejarah Perkembangan Tasawuf Hasan Al-Bashri


BAB I
PENDAHULUAN

Tasawuf dalam dunia Islam menduduki posisi tersendiri yang banyak berpengaruh dalam perjalanan peradaban Islam, perkembangan dan ketinggian posisinya melebihi dari kritikan pengamat dan penentangnya.
Kajian Tasawuf (mistik, sufi, olah spiritual) berperan besar dalam menentukan arah dan dinamika kehidupan masyarakat. Kehadirannya meski sering menimbulkan kontroversi, namun kenyataan menunjukkan bahwa tasawuf memiliki pengaruh tersendiri dan layak diperhitungkan dalam upaya menuntaskan problem-problem kehidupan sosial dan ekonomi yang senantiasa berkembang mengikuti gerak dinamikanya, karena tasawuf adalah jantung dari ajaran Islam, tampa tasawuf Islam akan kehilangan ruh ajaran aslinya.
Tasawuf akan membimbing seseorang dalam mengarungi kehidupan ini yang memang tidak bisa terlepas dari realitas yang tampak maupun yang tidak tampak, Untuk menjadi seseorang yang bijak dan professional di dalam menjalankan setiap peran dalam mengarungi kehidupan ini, karena selain bisa memahami realitas lahir ia juga mampu memahami realitas batin, sehinga ia mampu untuk berinteraksi dangan alam secara harmonis dan serasi, dan itulah yang diajarkan di dalam agama Islam, keharmonisan dan keserasian dengan alam semesta.
Dunia pencarian Tuhan ini terus ber-evolusi menawarkan kebenaran instuitif yang sering dicari manusia yang berada dalam keputusasaan rasionalitas dan intelektual. Di saat pilihan rasionalitas tidak menemukan jawaban, di saat jawaban tidak lagi memuaskan, di saat rasionalitas terjebak dalam kegersangan rasa, maka pengetahuan intuitif sering kali menjadi alternative pilihan.
Tasawuf adalah bagian dari Syari’at Islam, yakni perwujudan dari ihsan, salah satu dari tiga kerangka ajaran Islam yang lain, yakni iman dan Islam. Oleh karena itu bagaimanapun, perilaku tasawuf harus tetap berada dalam kerangka Syari’at. Maka al-Junaid mengatakan sebagaimana dinukilkan oleh al-Qusyairi , “Kita tidak boleh tergiur terhadap orang yang diberi kekeramatan, sehingga tahu betul konsistensinya terhadap Syari’at”. Tasawuf sebagai manifestasi dari ihsan tadi, merupakan penghayatan seseorang terhadap agamanya, dan berpotensi besar untuk menawarkan pembebasan spiritual, sehingga ia mengajak manusia mengenal dirinya sendiri, dan akhirnya mengenal Tuhannya.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian dan Asal-usul Kata Tasawuf
• Tasawuf berasal dari kata Ash-shuf (Arab) yang berarti bulu / kain wol yang kasar. Nabi SAW bersabda “ Hendaklah kamu memakai baju bulu, agar memperoleh manisnya iman dalam hatimu ”.
• Tasawuf juga berasal dari kata Ahl ash-shuffah yang berarti  kelompok sahabat yang tidak punya tempat tinggal dan tinggal diserambi masjid.
• Teoshophos(Yunani)— Teo (Tuhan) + Shophos (Hikmah / Kebijaksanaan). Dalam hal Teosophie ini pokok pengkajian agama adalah berdasarkan pada kemampuan otak dalam berfikir, sehingga Teosophie lebih cenderung merupakan filsafat daripada tasawuf.
Tasawuf berasal dari tiga huruf sha, wawu dan fa yang secara etimologi berarti bersih atau suci, sedangkan menurut istilah terjadi beberapa pendapat, Imam Junaid al Bahgdaty mendefinisikan Tasawuf sebagai berikut: “mengambil setiap sifat baik dan meningalkan setiap sifat yang rendah”. Menurut Ibrahim Bin Halal tasawuf adalah memeilih jalan hidup secara zuhud yaitu menjauhkan diri dari perhiasan hidup dengan berbagai bentuk kemewahan dunia.
Al Sadzily sufi besar dari Afrika Utara mendefisikanya tasawuf sebagai berikut: “praktik dan latihan diri melalui cinta yang dalam serta ibadah untuk mengembalikan diri pada jalan tuhan”. Dan banyak lagi istilah-istilah yang saya kira tidak perlu saya paparkan, karena inti dari pada definisi tasawuf adalah “penyucian batin atau hati dan menjaganya dari hal-hal yang buruk, yang akan melahirkan perilaku hubungan yang harmonis dengan Sang Pencipta dan segenap Mahkluk.        
           
B. Sejarah Tasawuf Pada Masa Hasan Al-Bashri
Tasawuf pada abad I dan II Hijriah belum menjadi lembaga tetapi pelaksanaannya dilaksanakan secara sendiri-sendiri, baru pada abad II H, dikembangkan oleh para guru rohani dan berkembang menjadi lembaga tarekat.           Pada abad ini kecendrungan tasawuf yang berkembang adalah tasawuf sunni (berorientasi pada akhlak)dan tasawuf filsafat (berorientasi pada akhlak dengan campuran kajian filsafat). Abad II Hijirah adalah peralihan zuhud ke tasawuf. Abad II Hijirah adalah peralihan zuhud ke tasawuf. Tokoh: Imam Jafar Ash Shadiq, Hasan al Bashri.
Pada abad kesatu dan kedua hijriyah disebut dengan fase zuhud (asketisme), sikap zuhud para sufi salafi merupakan awal kemunculan tasawuf, pada fase zuhud ini terdapat para sufi salafi yang lebih cenderung beribadah kepada Allah untuk mensucikan dirinya dari segala dosa dan kesalahan masa lalu. Mereka mengamalkan konsep zuhud dalam kehidupan yaitu tidak terlalu mementingkan makanan enak, pakaian mewah, harta benda melimpah, rumah megah, tahta, pangkat, jabatan dan wanita cantik, tetapi mereka lebih mementingkan beramal ibadah untuk kepentingan akhirat dengan rajin mendekatkankan diri kepada Allah, diantara 'ulama sufi salafi yang terkenal di masa itu adalah Hasan Al-Bashri (wafat pada 110 H) dan Rabi'atul Adawiyah (wafat 185 ), kedua sufi ini dijuluki sebagai zahid (orang yang sangat sederhana).
Lahirnya tasawuf sebagai fenomena ajaran Islam, diawali dari ketidakpuasan terhadap praktik ajaran Islam yang cenderung formalisme dan legalisme serta banyaknya penyimpangan-penyimpangan atas nama hukum agama. Selain itu, tasawuf juga sebagai gerakan moral (kritik) terhadap ketimpangan sosial, moral, dan ekonomi yang ada di dalam umat Islam, khususnya yang dilakukan kalangan penguasa pada waktu itu. Pada saat demikian tampillah beberapa orang tokoh untuk memberikan solusi dengan ajaran tasawufnya. Solusi tasawuf terhadap formalisme dengan spiritualisasi ritual, merupakan pembenahan dan elaborasi tindakan fisik ke dalam tindakan batin. Faktor internal lainnya ialah terjadinya pertikaian politik intern umat Islam yang menyebabkan perang saudara yang dimulai antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bermula dari al-fitnah al-kubra yang menimpa khalifah ketiga, Usman bin Affan maka sebagian tokoh agama mengambil jarak dengan kehidupan politik dan sosial.
Nilai atau ajaran dalam tasawuf merupakan puncak pengamalan dari akhlak. Pada masa Nabi SAW, kata tasawuf belum dikenal, yang dikenal adalah istilah zuhud, wara’. Abu Hasan Al- Fusyandi mengatakan” Hari ini tasawuf hanya sekedar nama tetapi tidak ada bukti. Pada jaman Rasulullah SAW, taswuf ada buktinya tapi tidak ada namanya. ”

C. Definisi Tasawuf Menurut Hasan Al-Bashri
• Sikap mendekatkan diri pada Tuhan.
• Ilmu tentang cara memperoleh pengetahuan dari Allah agar dibukakan hijab.
“Aku singkapkan selimut yang menutupi matamu, kemudian pada hari ini matamu menjadi tajam ” {Qs. Qaf (22 )}.
• Berhubungan dengan pandangan realitas, Al Baqarah (115 ) “Kemana kau palingkan wajahmu, disanalah wajah Allah”. Inilah yang dimaksud tauhid sejati, bahwa tiada sesuatu di dunia ini, kecualididalamnya terdapat wajah/kekuasaan/keagungan Allah. Tasawuf sendiri berhubungan dengan Ihsan.

D. Konsef Zuhud Hasan Al-Bashri
a. Konsep zuhud sebagai maqam
Maksudnya dunia dan Tuhan dipandang sebagai dua hal harus dipisahkan. Contoh yang jelas adalah ketika Hasan al-Bashri mengingatkan kepada khalifah Umar bin Abdul Aziz: “Waspadalah terhadap dunia ini. Ia bagaikan ular yang lembut sentuhannya namun mematikan bisanya. Berpalinglah dari pesonanya karena sedikit terpesona, Anda akan terjerat olehnya…”. Sedangkan Abdul Qadir al-Jailani dengan tegas menyatakan bahwa dunia adalah hijab akhirat, dan akhirat adalah hijab Tuhan. Bila berdiri bersama, maka jangan memperhatikan kepadanya, sehingga hati (sirr) bisa sampai di depan pintu-Nya.
Pandangan seperti itu adalah hasil dari pemahaman terhadap ayat-ayat al-Qur’an dan hadis Nabi secara tekstual, bukan pemahaman secara kontekstual dan sosiologis. Jika memahaminya secara kontekstual dan sosiologis, maka perlu memperhatikan pada masa awalnya al-Qur’an diturunkan, kondisi masyarakat Arab mempunyai anggapan bahwa dunia adalah satu-satunya yang kekal dalam kehidupan ini. Mereka beranggapan bahwa dunia ini adalah tempat yang abadi. Di sini al-Qur’an memberikan jawaban terhadap sikap seperti itu.
b. Konsep zuhud sebagai akhlak Islam
Maksudnya bisa diberi makna sesuai dengan situasi dan kondisi setempat. Sikap para ulama sebagaimana telah disebutkan tadi, merupakan reaksi terhadap ketimpangan sosial, politik, dan ekonomi yang mengitarinya, yang pada suatu saat dipergunakan untuk memotovasi masyarakat dari keterpurukan ekonomi dan memobilisasi gerakan massa untuk menumpas berbagai macam bentuk ketidakadilan di muka bumi ini. Dengan demikian formulasinya bisa berbeda-beda sesuai dengan tuntunan zamannya. Oleh karena itu, sebagai akhlak Islam, zuhud bisa berbentuk ajaran Futuwwah dan Al-Itsar.

E. Pokok-pokok Ajaran Tasawuf Hasan Al-Bashri dan Tujuannya
• Siapa yang mengenal dirinya pasti akan mengenal Tuhannya.
• Makrifat adalah tujuan dari Tasawuf.
• Tiga tahap menuju makrifat:
1. Takhalli yang artinya pengosongan, yaitu dikosongkannya pengaruh nafsu setaniah dari diri pelaku tasawuf.
2. Tahalli yang berarti mengisi/ menghias, yaitu mengisi hati dengan Nur Illahi, sehingga diri terhias dengan amalan baik.
3. Tajalli artinya terbuka/tersingkap, yaitu terbukanya hijab pengenalan akan Allah SWT.
Tujuan akhir tasawuf  adalah untuk memahamkan orang bahwa tasawuf itu merupakan asas Islam, dalam arti bahwa sikap Islam adalah sikap yang ada keseimbangan antara dunia dan akhirat, selain dari itu ada keseimbangan antara yang zahir dan yang batin, sifat kerohanian dan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan Syari’at. Tanpa keseimbangan seperti itu orang Islam akan menjadi bahan olokan dari pihak lain atau tuduhan-tuduhan yang miring, jadi kita menganggap bahwa Tasawwuf dapat mengangkat derajat umat Islam untuk dapat menempuh kebahagiaan di dunia dan akhirat

F. Hubungan Tasawuf Hasan Al-Bashri dengan Syariat, Tarekat, Hakikat, Makrifat
Hubungan dengan syariat: Tasawuf adalah jiwa yang memberikan power, sedangkan syariat adalah saluran dari power itu. Segala aktifitas syariat harus dijiwai oleh hati yang ikhlas mendapat ridha ’ dari Allah SWT sehingga berguna bagi umat (tujuan syariat). Kebersihan hati berhubungan dengan tujuan tasawuf yaitu sikap hati yang taqwa yang selalu ingin dekat dengan  Allah.
Hubungan dengan Tarekat: Tasawuf merupakan ilmu, tarekat itu metodologi pengamalan, suluk adalah pelaksanaannya, dan zikirullah adalah isinya.
Hubungan dengan hakikat: Pencapaian daritasawuf adalah mencapai suatu kebenaran yang mutlak(hakikat) yang tumbuh dari pengamalan tarekat, dengan 3 Macam tingkat, yaitu:
1. Terbukanya hijab.
2. Bersih dan kosongnya hawa nafsu.
3. Mudah dalam melaksanakan amal saleh.
Hubungan dengan Makrifat Dalam tasawuf, makrifat adalah mengetahui Allah SWT dari dekat, yaitu dengan hati sanubari. Pengetahuan tentang manusia terhadap Allah dibagi 3, yaitu:
1. pengetahuan orang awan  yang tanpa memerlukan pembuktian logika cukup dengan kalimat syahadat.
2. Penegetahuan ulama, yang memerlukan dalil dan logika. Kedua pengetahuan ini disebut ilmu, bukan makrifat.
3. Pengetahuan makrifat adalah pengetahuan akibat disingkapnya tabir (kasyf) oleh Allah akibat keikhlasan beribadat dan kesungguhan mencintai Allah.
Dalam hal ini pengaruh otak dan pengelihatan mata sudah hilang. Menurut Al Qusyairi ada 3 alat dalam diri manusia untuk berhubungan dengan Allah:
1. Kalbu (qalb/the heart) untuk mengetahui sifat Tuhan.
2. Roh (ruh/the spirit) untuk mencintai Tuhan.
3. Sirr (Sirr/hati sanubari, inmost ground of the soul) untuk melihat Tuhan.

G. Maqam Hasan Al-Bashri dalam Tasawuf Tingkat Diri Nafsani
a. Nafsul ammarah: watak diri jasadi-mengikuti hawa nafsu syahwat — takabur, loba, iri, pemarah, bakhil, khianat, munafik.
b. Nafsul lawwamah: menyadari akibat perbuatannya, tapi tidak mampu mengekang diri.
c. Nafsul Muthma’innah: bersih dari sifat tercela dan terisi sifat terpuji dan sempurna.
d. Nafsul Mulhamah: jiwa yang telah mendapat ilham dari Allah, berupa ilmu, tawadhu, menjadi berakhlak terpuji, sabar, tabah dan ulet.
e. Nafsul Radhiyah: jiwa yang ridha akan ketetapan dari Allah dan menyerahkan diri sepenuhnya pada Allah.
f. Nafsul Mardliyyah: Maqam wali Allah — tingkat yang dimuliakan oleh Allah, siapapun tak bisa menghinakan.
g. Nafsul Kamilah: jiwa yang telah menjadi sempurna —ilmu yang diperoleh adalah ilmu ladunni, dalam kondisi iniruh selalu dekat dengan Allah.


BAB III
KESIMPULAN

Tasawuf berawal dari kesederhanaan dan kesalehan yang ditunjukkan dalam kehidupan Muhammad SAW dan para sahabatnya, sikap ini pada masa Hasan Al Bashri berkembang menjadi asketisme yang menekankan prilaku zuhd, khauf serta mahabbah oleh beberapa orang.
Tasawuf pada abad kesatu dan kedua hijriyah disebut dengan fase zuhud (asketisme), sikap zuhud para sufi salafi merupakan awal kemunculan tasawuf, pada fase zuhud ini terdapat para sufi salafi sepertinHasan Al Bashri yang lebih cenderung beribadah kepada Allah untuk mensucikan dirinya dari segala dosa dan kesalahan masa lalu.
Pokok-pokok ajaran tasawuf Hasan Al Bashri adalah siapa yang mengenal dirinya pasti akan mengenal Tuhannya, makrifat adalah tujuan dari Tasawuf dan tiga tahap menuju makrifat, yaitu:Takhalli yang artinya pengosongan, tahalli yang berarti mengisi/ menghias dan tajalli artinya terbuka/tersingkap, yaitu terbukanya hijab pengenalan akan Allah SWT.
Tasawuf menurut Hasan Al Bashri yaitu sikap mendekatkan diri pada Tuhan dan ilmu tentang cara memperoleh pengetahuan dari Allah agar dibukakan hijab.
Tujuan akhir tasawuf  adalah untuk memahamkan orang bahwa tasawuf itu merupakan asas Islam, dalam arti bahwa sikap Islam adalah sikap yang ada keseimbangan antara dunia dan akhirat, selain dari itu ada keseimbangan antara yang zahir dan yang batin, sifat kerohanian dan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan Syari’at. Tanpa keseimbangan seperti itu orang Islam akan menjadi bahan olokan dari pihak lain atau tuduhan-tuduhan yang miring, jadi kita menganggap bahwa tasawuf dapat mengangkat derajat umat Islam untuk dapat menempuh kebahagiaan di dunia dan akhirat.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Jami, Abd al-Rahman, Nafahat al-Uns min Hadarat al-Quds: pancaran kaum sufi, Kamran As’ad Irsyady,ed. Bioer R. Soenardi, Yogyakarta: Pustaka Sufi, 2003.
Syukur, Amin, Menggugat Tasawuf, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999
Siregar, Rivay, Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neo Klasik, Jakarta:Raja Grafindo Persada, 2000.
Sviri, Sara, Demikianlah Kaum Sufi Berbicara, Bandung: Pustaka Hidayah, 2002.
http://www.imabasurabaya.co.cc/2009/06/evolusi-tasawuf.html.
http://starawaji.wordpress.com/2009/11/21/sejarah-perkembangan-tasawuf/.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar